BERSAMA MENDEKATI CAHAYA

Oleh: Salisatur Rosikhoh

Pagi ini aku tersenyum sendiri mendapati diriku tengah berada di belakang shaf anak-anak. Kuperhatikan setiap gerakan dan bacaan yang dikerasakan untuk latihan. Ya, mereka melakukan pembiasaan salat duha bersama-sama di masjid. Ada kepuasasan tersendiri kurasakan. Selega ini hati menyaksikan keajaiban yang terjadi tanpa kusadari sedari awal.

Ringannya hatiku bukan hadir tanpa sebab. Adalah karena tiba-tiba ingatanku melayang ke masa-masa awal tahun pelajaran tahun ini. Tahun di mana pertama aku mendampingi anak-anak masuk sekolah dari awal setelah sebelumnya tertahan interaksi langsung lantaran pandemi.

Sungguh kenangan indah. Anak-anak yang waktu awal masuk dan beberapa masih berseragam TK/RA asalnya sebelum salat duha dulu ada selalu memintaku memakaikan mukena. Kemudian setelah selesai salam pun mereka kembali meminta bantuanku ataupun guru lain yang mendampingi untuk melipatnya. Aku yang menyadari mereka masih awam soal kemandirian, menanggapi permintaan mereka sebagai mana mestinya. Hanya saja aku lantas tidak serta merta langsung memakaikan. Kuberi tahu cara atau tips memakai mukena supaya lebih mudah, tidak membuat bingung. Kuminta mereka mempraktekkan alias mengulangi yang telah kucontohkan.

Sekali dua mereka masih meminta kembali bantuanku dan kutanggapi dengan hal yang kurang lebih sama. Ketika mereka telah berhasil kuberi jempol, senyum mereka pun merekah. Beberapa hari kemudian mereka lapor kepadaku sudah bisa memaki mukena sendiri. Hingga kini mereka telah mandiri, memakai mukena dan melipat. Memberi pengertian bahwa apapun bisa asal mau mencoba dan belajar kiranya telah terjadi.

Cerita lain datang dari anak kelas satu yang sedari awal masuk sampai kisaran satu bulan menangis setiap sampai sekolah, orang tua sekalipun sayang tetap meninggalkan anaknya dan kami mencoba membantu, membimbing ia untuk mengikuti kegiatan di sekolah mulai dari salat dhuha, mengaji dan belajar di kelas. Ia tidak hentinya menangis. Di sela-sela itu kami terus dengan motivasi dan pengertian bahwa ia anak yang sholihah dan banyak teman di sekolah jadi tidak perlu khawatir. Kami juga mengkondisikan supaya teman-teman sekelasnya merangkul. Alhasil, kini anak tersebut sudah tidak menangis kembali. Bahkan ia terlihat semangat mengikuti pelajaran.

Bagaimana itu bisa terjadi? Entahlah. Jelasnya yang kuketahui bahwa menjadi guru bukan hanya memberikan pengetahuan namun juga melatih, memelihara dan mengembangkan akhlak yang baik agar tercermin dari kesehariannya.

Di lain waktu aku juga turut menyoroti kenanganku bersama anak-anak. Mereka dengan dunianya memang penuh tantangan bagi para guru untuk mengarahkan. Dan kukira guru yang baik bukanlah guru yang tidak pernah marah. Akan tetapi guru yang mau memegang teguh kebaikan agar termanifestasikan pada perilaku muridnya.

Ini juga pernah kualami. Setiap berdoa, beberapa anak di kelas sesekali membuat gerakan ataupun gaduh. Pernah sekali dua kuajak dialog dan kuberikan pelajaran bahwa berdoa layaknya berbicara kepada Allah. Jadi harus dengan penuh sopan santun. Pasalnya, mereka anak-anak. Dan terjadlah kejadian serupa di waktu berikutnya. Kuberi peringatan dan kuajak berdoa lagi. Kalaupun di waktu depan masih ada yang bercanda saat berdoa, harus mengulang doa dan beristighfar.

Polah anak siapa yang menduga. Pernah aku mendapati anak yang mengatakan kata-kata kasar. Sebagai bentuk kasihku kuajak ia dan teman sekelas mengobrol dan mereka mengiyakan bahwa berkata kasar atau bahkan kotor adalah berakibat tidak baik dan tidak disukai Allah juga teman sesamanya. Aku meminta mereka berjanji untuk tidak berkata kasar atau kotor. Dan kalaupun terjadi, aku hanya mengucap astaghfirullah dan ia langsung tepuk jidat, senyum meringis dan melanjutkan istighfarku sebanyak minimal serratus kali sesuai arahanku dulu. Perlahan ia setiap tanpa disadari mengucap perkataan tidak baik sontak mengucap istighfar.

Ada juga anak yang ketika berbicara selalu dengan nada tinggi alias seperti teriak dan penuh emosi. Aku tak banyak berkata, hanya bertaya kepadanya apa tidak capai berteriak? Aku menyuarakan suaraku pelan. Dan si anak yang kumat memanggil atau meminta sesuatu dengan berteriak dan aku mendengarnya aku memanggil namanya dengan suara pelan, ia pun memelankan suara. Teman-teman sekelas yang mengadukan tentang sikapnya pun kini telah jarang melapor. Mereka juga kuajak untuk sama-sama membantu temannya berproses dan alhamdulillah dengan izin Allah hal tersebut bukan hal mustahil.

Cerita menarik lain adalah ketika aku piket menggantikan guru yang sedang izin karena sakit, biasanya mereka memberi tugas membaca dan mengerjakan tugas di buku. Aku tidak hanya diam di depan, mengingat aku juga seorang sarjana pendidikan, aku pernah memberikan kuis di papan tulis dan pertanyaan yang kuambil adalah pertanyan di soal setelah bacaan. Kubagi mereka menjadi kelompok laki-laki dan perempuan, ya mereka begitu antusias menemukan jawaban dan adu cepat menuliskan di papan tulis. Usai kuis kujelaskan bahwa apa yang mereka kerjakan adalah soal setelah jawaban. Dan akhirnya mereka ada yang mengaku telah tahu dari awal dan ada juga baru sadar setelah kuis berakhir lantas menyalin jawaban di buku mereka masing-masing.

Menjadi guru kukira mengajarkan akhlak baik adalah suatu keharusan. Di lingkunganku yang lekat akan budaya kejawen saat melintas di depan orang lebih tua membungkukkan badan adalah sesuatu yang menunjukan sopan santun. Nah, masalahnya lebih banyak anak-anak bermain kerap tidak menyadari itu dan hanya melintas lari, itulah mengapa sesekali aku bertemu mereka dan mereka tidak menunduk kutanyakan kalau lewat di samping atau depan bapak ibu guru mereka menjawab dengan isyarat. Kata nuwun sewu juga biasanya kuungkapkan setiap melihat anak-anak yang hendak melewati guru lain. Sekalipun belum sepenuhnya mereka menerapkan secara otomatis, kukira yang demikian akan menjadi kenangan indah.

Oh iya, aku yang seorang guru mengaji bersama guru lainnya biasa menghabiskan waktu di serambi masjid. Kalau ada perlu apa-apa, anak-anak akan langsung menghampiri kami di sana. Hanya sering ada mereka beberapa mengetahui kami duduk di bawah sudah memulai berbicara ketika melihat wajah kami. Sebagai upaya, aku memanggil dan meminta duduk dulu baru berbicara. Kuungkapkan bahwa berbicara duduk kepada guru yang duduk adalah sopan santun yang harus dilakukan, selain itu alasan logisnya kukatakan bahwa berkali-kali, selain aku kurang sreg karena dari segi kesopanan adalah kurang tepat, apa yang dikatakan si anak tidak jelas terdengar.

Menjadi guru selain mendidik dan memberi latihan supaya mereka jera akan hal-hal yang tidak baik ternyata juga perlu dibumbui menjadikan diri menjadi inspirasi. Ada setidaknya sejauh ini anak didikku yang pernah mengatakan bahwa mereka ingin menjadi guru ataupun pendidik seperti diriku.

Kata mereka menjadi guru itu asik. Bisa bertemu anak-anak dan berbagi pengalaman, mereka menyukai interaksi aktif antara guru dan murid serta pengetahuan-pengetahuan baru yang mereka dapati, membuat hari mereka semakin warna-warni.

Walaupun aku bukan sosok guru ideal dan masih harus banyak belajar tentang bagaimana menjadi guru bercahaya yang mampu menerangi anak didiknya menuju masa depan cerah, aku akan tetap mensyukuri belajarku bersama anak-anak selama ini.

Bersama anak-anak aku belajar tentang bagaimana mendekati cahaya. Mengupayakan apa yang disebut baik di setiap kesempatan. Tidak hanya mendampingi mereka, pendampingan terhadap diri sendiri pun tak luput agar energi ataupun gairah tetap menyala di dada dan menyambung ke hati anak-anak sehingga di manapun mereka, cahaya dari-Nya mampu menerangi. Semoga saja.[]

Blitar, 08 Mei 2023

Komentar

Postingan Populer