AKU, BUKU, DAN TEMAN SEBANGKU
Sebuah perjalanan pastilah memiliki langkah pertama. Jika berlangsung baik, langkah kedua, dan seterusnya mungkin akan terjadi hingga akhirnya mengantarkan seseorang sampai ke tujuan. Lalu, tentangku yang sekarang masih saja senang membaca bagaimana cerita awalnya?
Sekitar dua belas tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku Mts, rasa kagumku akan buku mulai muncul. Hari-hari sekolahku kala itu sedikit berbeda dari teman-teman kebanyakan. Memang apa bedanya?
Adalah teman sebangkuku yang gemar menulis cerita di buku tulis miliknya. Namanya Ana. Aku semula hanya penasaran saat tidak sengaja melihat ia mengeluarkan buku tulis berisi coretan tapi bukan pelajaran.
Untungnya temanku ini tidak pelit soal barang miliknya untuk dipinjamkan. Saat kuminta melihat bukunya lebih dekat, ia setuju saja. Begitu kupastikan isi buku tersebut, rasa heranku pun datang. Kog bisa seseorang membuat tulisan ringan hingga mampu kulahap habis.
Sejak saat itu, saat jam istirahat di sekolah kegiatanku bertambah menagih kabar cerita karangannya, dan menikmatinya laksana makanan ringan. Sesekali kubertanya tentang bagaimana ia menulis. Ia pun hanya menjawab karena biasa dan suka membaca.
Hari pun berlalu, Ana masih tidak bosan menuliskan coretan berbentuk cerpen di buku tulisnya. Pembacanya pun bertambah tidak hanya aku seorang. Teman sekelasku juga ada yang tertarik menikmati sajian cerita karangan Ana.
Suatu ketika, Ana mengajakku ke perpustakaan. Aku yang agak sangsi soal perbukuan hanya bisa beralasan mengerjakan hal lain di kelas.
Tapi Ana tidak menyerah. Beberapa kali akan ke perpus ia selalu mengajakku. Karena stok alasanku sudah mencapai batas, aku akhirnya mengiyakan ajakan Ana.
Sejarahku masuk perpustakaan sekolah pun terjadi. Begitu masuk pintu, Ana langsung menuju rak fiksi untuk membidik calon bacaannya, yakni novel. Sedangkan aku? Aku masih kaku, pandanganku mengedar ke kanan-kiri, celingukan di sebelah Ana.
Kuikuti Ana untuk memilih buku bacaan, namun bukan novel atau buku penunjang pelajaran. Membayangkannya saja aku sudah tidak kuat. Kupilih bacaan di sebelah rak fiksi. Kumpulan majalah tanaman. Kuingat namanya “Majalah Trubus”.
Majalah Trubus menjadi penyelamatku. Mengapa? Karena aku bisa menyegarkan mata dengan melihat-lihat bunga, bonsai, dan buah hasil budidaya yang dipajang di majalah tanpa harus berpusing ria dengan tulisan berderet. Menyoal tulisan di sekitar foto tidak begitu kuhiraukan. Yang penting madep buku. Hehe.
Pelan tapi pasti kegiatan berkunjung ke perpus semakin intens. Bacaanku juga semakin merambah ke jenis lain. Bukan apa, Majalah Trubus andalanku sudah habis stoknya.
Alasan lain adalah beberapa guru mewajibkan siswa untuk membaca buku di perpus guna melengkapi materi yang belum ada di lks. Ada juga tugas membuat pantun, yang mengharuskanku untuk belajar dari arsip di perpus karena aku belum pernah membuatnya.
Berkaca dari kegiatan membaca yang semakin memudahkanku memahami dan berhasil menyelesaikan tugas-tugas sekolah, aku akhirnya ketagihan membaca. Aku tidak segan lagi pergi ke perpus sendiri saat Ana tidak ke sana lantaran masih memiliki stok pinjaman buku.
Awalnya memang hanya melihat foto di buku. Lalu aku bersambung menikmati buku tebak-tebakan juga buku humor, sebangsa bacaan ringan pokoknya. Dan akhirnya buku-buku motivasi Islam, pengetahuan agama, hingga booster pelajaran seperti trik hitung cepat berhasil kucicipi.
Ah ternyata skenario Allah itu memang tidak bisa serta merta ditebak arahnya. Siapa sangka, aku yang awalnya membaca karena penasaran berakhir pada kegemaran. Sungguh sebuah kebetulan baiknya yang amat layak untuk kuperjuangkan menjadi lebih lama dan lebih luas lagi.
Mengingat itu semua, kusadari beberapa hal mungkin awalnya terlihat sulit untuk dijalani. Namun, jika kita berhasil menemukan hal baik di dalamnya atau bahkan kita mampu membuat alur sendiri, kebaikan akan mengikuti.
Selama ada niatan baik dan dilancarkan ke tindakan untuk mewujudkan, kukira semesta akan bekerja sebagaimana mestinya. Hidup itu sekalipun mengalir tapi juga harus tahu kemana alirannya agar tidak asal kan?[]

Komentar
Posting Komentar